Banyak hal karena dibiasakan akhirnya jadi kebiasan, kebiasaan dipelihara bertahun-tahun dan diikuti banyak orang akhirnya membudaya (tapi bukan merupakan kebudayaan)

Akhirnya naskah kumpulan puisiku yang rencananya akan diikutkan lomba Penulisan Buku Pengayaan PUSBUK Depdiknas 2009 akhirnya batal dikirimkan, karena sampai batas akhir pengiriman yaitu 15 Mei 2009 (stempel pos) naskahnya belum selesai diketik dan ada beberapa puisi yang dirasakan belum mantap dan perlu diedit sedikit-sedikit.

Sebenarnya ada banyak waktu yang tersedia untuk menyelesaikan naskah kumpulan puisi, karena memang puisinya sudah jadi, cuma memang ada yang ditulis tangan dan ada yang diketik tanpa disimpan dalam flashdisk atau laptop sehingga memang perlu diketik ulang. Sebabnya tak lain karena kebiasaan buruk yang dipelihara : mengulur-ulur waktu, (ah..santai saja masih ada waktu, nanti saja dikerjakan, itulah ungkapan yang sering timbul dalam pikiran yang membuat pekerjaan jadi ditunda)

Parahnya lagi pada saat bersamaan juga aku harus menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan mempersiapkan diri untuk mengikuti Pemilihan Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Kotabaru tahun 2009 (termasuk menyusun portofolio) Dan walau berusaha untuk menjalaninya dengan baik dengan target maksimal, tapi kenyataannya tetap saja tidak bisa Fokus

Pada tanggal 15 Mei 2009 siang jam 15. 30 WITA aku pulang dengan membawa naskah kumpulan puisi yang tak sempat dikirim karena kantor posnya sudah tutup. Ya…akhirnya pulang dengan rasa kecewa.

Esoknya tanggal 16 Mei 2009 di aula Dinas Pendidikan Kotabaru mengikuti ajang pemilihan Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Kotabaru. Setelah melalui 3 (tiga) tahapan kegiatan yaitu : psikotes, wawancara, pemaparan karya tulis ilmiah, keesokan harinya pengumuman pemenang sudah diketahui dan aku mendapat nilai tertinggi untuk jenjang Guru SMP dan dinyatakan sebagai guru berprestasi tingkat Kabupaten Kotabaru untuk Jenjang SMP dan akan mengikuti ajang yang sama di tingkat propinsi Kalimantan Selatan. Walau kadang tidak yakin juga, apa iya aku guru berprestasi, tapi ya anggaplah ini sebagai penawar kekecewaan yang timbul karena gagal mengikuti lomba penulisan Buku Pengayaan 2009.
Oke next time, tidak mengulur-ulur waktu dan fokus pada satu hal, satu kegiatan, satu keahlian, satu bakat, satu istri………lho?

Februari 13, 2009

BELUM ADA JUDUL

Dari balik kaca jendela di sela-sela gorden yang sedikit terbuka dapat kulihat mata perempuan itu. Menatap kosong ke ujung-ujung jalan yang sunyi. Mata yang lelah dengan cahaya redup seperti menyimpan luka yang begitu dalam dan telah membatu dalam kelopak matanya.

Sementara hujan belum juga reda menyisakan tetes-tetes kecil dalam gelombang gerimis yang memantulkan bebunyian berirama magis.

Aku masih setia dan betah berdiri juga di balik gorden kamarku, menatap wajah perempuan itu. Ada gairah tersendiri yang membuat aku bertahan menatap gerak perempuan itu atau bahkan tepatnya mengintip gerak perempuan itu walau yang dapat kulihat hanyalah selalu wajahnya yang muram.

Ini bukanlah yang pertama perempuan itu berdiri dengan tatapan kosong. Dan juga bukanlah kali pertama aku berdiri di sini memandang perempuan itu. Telah seminggu waktu berlalu, di tiap sore sampai menjelang senja ia menghabiskan waktu dengan berdiri di balik kaca jendela kamar rumahn

Baca entri selengkapnya »

PELABUHAN WAKTU

Februari 6, 2009

di sebuah malam kita kembali terjebak di pelabuhan purba

tanpa perahu tanpa laut

kecuali badai yang mengguncang tubuh malam

dan mendedahkan tubuh kita di barisan buih rapuh

dalam remang kubaca bibirmu

dingin dan basah

kata-kata juga isyarat telah membatu di sini tak terekam makna di kebisingan pantai

seperti hujan yang telah usai

puisipuisi

Desember 30, 2008

TAK ADA JUDUL


aku temukan wajahmu yang putih memucat

terserak seperti gerimis yang datang kemudian

pada gerai rambut hitam pada lipatan baju  sewarna malam

nafas dingin meruap di seduhan kopi seperti mencoba menyingkat

waktu dalam kesunyian

di taman ini segala keinginan dan hasrat dibayang luka

remang lampu, alunan lagu, suara-suara dan tawa mendesau serupa

igau pemabuk papa

aku temukan wajahmu yang putih memucat memberi warna sangsi

bagi bulan yang beku, bangku-bangku kosong telah menjadi saksi

kelahiran sepi , seperti kau yang kemudian menjelma menjadi seorang

peri bagi anak-anak malam yang meratapi hidup di ujung gigil malam

Hari ini adalah hari ketiga kegiatan diklat PAKEM (Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) dari rangkaian acara yang rencananya akan dilaksanakan selama 5 hari (2 – 6 Juni 2008). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kab. Kotabaru  dengan pembicara atau narasumber (widyaiswara dari LPMP Kalsel)  yaitu  Bapak M. Etryani dan Subroto.

Ada banyak masukan yang diberikan oleh pembicara tentang bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan  PAKEM dengan menggunakan model-model pembelajaran yang telah dikenal sebelumnya.

Ada timbul semangat baru setelah mengikuti kegiatan ini, namun ada pula rasa pesimisme tentang pelaksanaan PAKEM ini nantinya.

Karena ada banyak faktor yang membuat tujuan pembelajaran dapat tercapai. Seperti halnya kemampuan para pendidik untuk mengaplikasikan segala teori belajar ataupun model-model pembelajaran yang diberikan serta daya kreasi maupun inovasi yang memang harus dimiliki oleh guru.

Jadi terlepas bagaimana pembelajaran itu disampaikan, baik dengan konsep baru yang dinamai PAKEM atau konsep-konsep lama  seperti CBSA, CTL, dll hal yang terpenting adalah adanya kemauan dari para pendidik serta adanya kemampuan yang memang harus dimiliki oleh pendidik dalam hal mengaplikasikan sistem pembelajaran yang ada.

Cerita pendek

Juni 3, 2008

MENJELANG SUBUH
Oleh : Jhon FS. Pane

Lelaki itu mencoba menghentikan khayalannya ketika dirasakannya kepalanya mulai pusing. Memang selama ini waktu-waktunya hanya dilewatkan dengan mengkhayal dan bermimpi karena dengan demikianlah ia dapat sejenak melupakan segala persoalan hidupnya.

Malam semakin tinggi . Udara malam mulai terasa dingin menggila. Marto merapatkan sarungnya, tak terasa tubuhnya bergidik merasakan dingin yang menusuk-nusuk dan membuat tubuhnya menggigil.
Diisapnya rokok yang tinggal sebatang dan ia mencoba merasakan nikmat dari isapan-isapannya. Sebab inilah rokok terakhir yang dimilikinya, itupun rokok Wardi temannya yang sedari tadi pulas tertidur di pos jaga. Baca entri selengkapnya »

PUISI-PUISI

Juni 3, 2008

LUMPUR AIR MATA

Usai sudah doadoa senyap kau sihir jadi puisi
Menyongsong gerbong bencana yang meluapluap
Mendidihkan tangis airmata bagi tidur tak lelap

Sementara kau tak lagi kenali wajah malam
Kecuali perih mendayung sunyi dari lubuk ke lubuk
Sekali waktu kau diam, mungkin tlah habis kata-kata
Tinggal mengukur kedalaman atau sekedar menakar kesabaran
Ketika sawahsawah, halaman rumah tinggal nama
Tenggelam dalam luapan resah yang kian membusuk

Di ujung gelisah kau bangun tanggul airmata
Sambil menunggu beningnya pecah menjadi keruh
Ketika duka menyusun kayuh menajam sembilu
Yang meruntuhkan sayap-sayap bidadari
Yang setia menjaga warna pelangi di lingkar hujan matamu
Baca entri selengkapnya »